Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 2 (03)

Chapter 1

KELINCI DARI KUIL KEGELAPAN

-BAGIAN KEDUA-

(3)

TL Note : Dihimbau sekali lagi, silahkan buka bagian [1], [2], dst. Agar paham apa maksudnya.

Terima kasih.


“Hei, Akino.”

“Ya?”

“Apakah ubi-ubinya sudah matang? “

“Ubi? …Ahh!?”

Akino benar-benar lupa. Akino mengambil sapunya dengan tergesa-gesa dan menggali ubi-ubi jalar yang ia bakar dari tumpukan abu. Seperti dugaannya, kulit luar ubi-ubi itu sudah menghitam. Akino meraung sembari kakek sen tertawa, “haha–“.

“Yah, baiklah, aku permisi, makanan-makanan ‘itu’ akan segera habis…. “

Setelah berkata begitu, Kakek Sen berjalan ke arah Aula Tachibana untuk menyirami bibit-bibit tanamannya.

Setelah itu, Akino membersihkan bagian luar ubi-ubi jalar itu dan hanya bisa memakan bagian tengahnya. Meskipun begitu, ia agak beruntung karena bagian yang tidak gosong terpanggang sempurna. Oleh karena itu, Akino dapat bersyukur.

Setelah ia menghancurkan dan menyembunyikan bukti pencurian makanannya, Akino berjalan-jalan di sekitar –Serta menyembunyikan telinga kelincinya—Lalu kembali ke Gudang penyimpanan.

Persiapan makan malam akan segera dimulai, sebelum matahari terbenam.

Di biara ini, makan malam disebut dengan “Slop”[1] , karena makanan hanya disediakan dua kali sehari yaitu saat sarapan dan makan siang. Mereka tidak menyantap suatu hidangan saat makan malam, mereka menyantap “Slop” sebagai ganti makanan. Memang, di Kuil Seishuku daging jarang ditemukan, “Slop” hanya nama sebagai formalitas saja. Lagi-lagi Akino dimarahi oleh kakak tingkatnya dan tergesa-gesa dengan mata berlinang air mata sembari mempersiapkan makan malam.

Saat sedang menyiapkan makan malam ternyata kayu bakar tidak mencukupi. Oleh karena itu Akino pergi keluar untuk mencari beberapa kayu bakar.

Setelah itu, ketika Akino sedang memungut kayu bakar yang tersimpan di bawah atap, ia mendengar suara Tadanori.

“……Kau tak sabaran lagi. Identitasnya… Ya, bila ‘itu’ berada di sana…. “

Akino mengintip. Tadanori berwajah sedih dan menggenggam sebuah ponsel di satu tangannya sembari berjalan dari arah biara.

“……Sudah disini? Baiklah. Untuk saat ini, aku akan mengirimkan orang ke sana. Akankah kau sampai disini besok? …..Ya…… Nn……”

Tadanori menjawab telepon beberapa kali dan mematikannya setelah perbincangan mereka selesai. Akino menatap Tadanori dalam diam. Akino lebih terkejut tentang Tadanori yang memiliki ponsel dibandingkan dengan pembicaraannya.

Karena pekerjaan di biara, terdapat sebuah telepon dan ponsel yang tersedia. Namun, Akino tidak memilikinya dan tak pernah menyentuhnya. Sebuah ponsel merupakan salah satu barang yang ingin Akino miliki.

Saat Tadanori menyadari kalau Akino sedang menatap ke arahnya dalam diam, ia membalas menatap. Agar tidak dikira pemalas, Akino langsung membalik badan serta membawa kayu bakar dan melarikan diri.

Akan tetapi, Tadanori memanggil Akino saat ia akan melarikan diri.

“Akino–“

“Y-Ya? A-aku tidak bermalas-malasan. Aku dengan sungguh-sungguh sedang mempersiapkan makan malam…. “

“Ya. Kesampingkan hal itu. Aku hanya ingin mengutusmu. “

“Seorang duta kalau begitu?”

“Ya. Cepat pergi ke aula depan sekarang atas perintahku. “

Setelah mendengar ucapan Tadanori, Akino secara tak sengaja mengeluarkan telinga yang disembunyikannya –Meskipun terkejut, ia juga terasa gembira.

Seperti Namanya, aula depan terletak di luar wilayah biara –Aula itu seperti aula milik kuil Seishuku yang ada di kaki gunung.

Aula itu pernah disusun ulang pada jaman dahulu sebelum Akino lahir dan digunakan sebagai Gudang oleh orang-orang di kota untuk menyimpan material yang sudah dibeli sampai saat ini. Bagi Akino yang tak pernah mengunjungi dunia luar, tempat itu bagaikan koneksi untuk menuju ke dunia luar.

“Pergilah menuruni gunung sebelum gelap jika kau bisa. Sebisa mungkin pulanglah besok, jadi bergegaslah. “

Detak jantung Akino berderu semakin cepat saat mendengar bahwa ia dapat menginap. Ia dapat melebarkan sayapnya dan tebang menjulang tinggi mala mini –Serta bermain sepuas hatinya. Hal itu dapat terjadi karena adanya majalah dan televisi di luar Aula depan. Meskipun terdapay majalah, televisi, dan computer beserta jaringan internet, Akino tak bisa memonopoli semua itu. Saat-saat singkat kebebasan seperi ini bagaikan tarikan napas sementara yang terasa membahagiakan bagi Akino.

Lalu,

“J-Jika aku harus berangkat sekarang, makan malamku bagaimana….? “

“Cari saja nanti. Restoran cepat saji misalnya. “

Akino hanya dapat merasa takjub. Ia hampir saja melemparkan kayu bakar yang ia bawa dan mengangkat tangan serta bersorak. Ia bisa makan mie cup disana. Bagi Akino, hal ini merupakan anugerah yang tak dirasakannya dalam setahun. Apakah perasaannya timbul pada mukanya? Raut wajah Tadanori meredup. Akino dengan sigap menghentikan tinkah kekanak-kanakannya.

Saat itulah ia sadar belum menanyakan hal terpenting yang seharusnya ia tanyakan.

Akino menggendong kayu bakar di punggungnya dan bertanya.

“Kalau begitu, Pendeta Tadanori? Aku akan menjadi wali dalam hal apa? “

“Kau belum dengar kabar? Aku akan menghubungi Kengyou-sama. Sepertinya aka nada murid baru. Dan murid itu sudah ada di kaki gunung. “

(TL Note : Kengyou-sama itu kaya atasan di sebuah kelompok keagamaan sana. Orang penting di kuil begitulah, AKA Imam/Ustad/Kyai)

Saat itu jugam di kepalanya ada sebuah “gangguan” dan Akino dengan sigap menekan kepalanya sendiri dengan tangannya.  di balik kacamatanya melebar.

Kengyou-sama akan pergi dalam waktu dekat ini. Jadi, besok kau harus mengantarkan orang itu ke biara menggantikanku, oke? “

Tadanori mengernyitkan dahu dan Akino kembali ke kuil bersamanya. Setelah memberikan kunci Aula Depan pada Akino, Tadanori kembali bekerja. Sebaliknya, Akino yang ditinggalkan masih terkejut setelah menerima kunci darinya.

Tadanori bertitah untuk mengantarkan sang murid baru ke biara.

Pokoknya, akan ada orang baru.

Rasa gundah dan kesenangan bergemuruh dalam hatinya. Sudah beberapa tahun berlalu sejak seorang pemula datang. Orang seperti apa yang akan datang? Seorang pria? Wanita? Berapakah umurnya? Apakah sifatnya baik atau jahat? Apakah orang itu akan mengejek Akino bila ia melihat telinga kelincinya?

“……Ah, hmm? Tunggu! Bila orang itu sudah ada di kaki gunung, itu berarti…. “

‘Menghabiskan malam di Aula Depan dan mengantarnya besok’ berarti bahwa Akino harus menginap bersama orang itu malam ini.

Tiba-tiba saja, perasaan gundah dalam hatinya mengungguli perasaan kesenangan dalam hatinya. Tidak masalah bila orang itu enak diajak bicara, namun jika tidak Akino akan kesusahan tidur malam ini. Ia harus bagaimana?!

…Akino, yang di mukanya sudah penuh dengan ekspresi kesedihan mendengar gaokan burung gagak dari kejauhan sendirian. Langit sudah diwarnai cahaya matahari terbenam, dan sang surya sudah mulai menyembunyikan dirinya. Meskipun Akino memiliki keyakinan terhadap kecepatannya berjalan saat malam, keadaannya tetap saja berbahaya. Jadi, ia harus bergegas menuruni gunung sebelum fajar menghilang.

Akino dengan terbutu-buru kembali ke Gudang penyimpanan dan menjelaskan pada seniornya.

Seharusnya saat ini adalah saaat sibuk-sibuknya di Gudang penyimpanan. Namun, Akino ingin pergi, jadi senior-seniornya benar-benar bersifat sarkastik padanya. Akan tetapi, Akino tak bisa dihalang-halangi karena apa yang ia lakukan adalah sebuah perintah dari atasan mereka. Akino terus-menerus meminta maaf dan meninggalkan Gudang penyimpanan dengan segera.

Daun maple yang berwarna merah bergoyang seraya terhembus angin dan jatuh dengan diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s